Alasan Kenapa Perkawinan Incest (Sedarah Maupun Sepersusuan) Dilarang Dalam Islam


Perkawinan Incest (Sedarah Maupun Sepersusuan) Dilarang Dalam Islam

Oleh Rito Kurniawan

Tidak ada satupun hal yang diharamkan Al-Qur’an yang tidak mengandung madharat (bahaya). Kalaupun dari segi tertentu manfaat bisa ditemukan, tetap saja madharat lebih mendominasi. Kalaulah madharat tersebut tidak langsung menimpa individu, ia bisa menimpa keluarga, atau masyarakat luas. Ini pula yang terjadi dalam kasus inbreeding, ah incest saja. Bahwa ada penemuan incest dipraktekkan dalam masyarakat tertentu untuk menjaga keunggulan trah (garis keturunan) dan ternyata tidak ada akibat negatif, hal itu tidak berarti bahwa secara logika incest menjadi sah-sah saja. Namun sekali lagi, tidak ada sesuatu yang diharamkan Islam yang tidak mengandung bahaya. Sehingga boleh jadi secara dlohir incest (baik karena sedarah maupun sepersusuan) bagi penjagaan galur murni ini tidak ada bahaya, namun bisa saja secara kejiwaan dan moral bisa berbahaya.

Apalagi jika dihadapkan pada agama. Semua agama tanpa dikomando menganggap praktek incest sebagai sesuatu yang terlarang. Demikian pula perasaan moral masyarakat secara kolektif – baik yang dibentuk oleh agama maupun yang dibentuk oleh akalbudi – menolak praktek ini sebagai bentuk penyaluran naluri seksual manusia. Sekalipun argumen dan pendekatannya berbeda-beda, pembahasan incest dari sudut pandang agama-agama selalu berujung pada kesimpulan yang sama : Ra Entuk !!!

Tak tahu lagi kalau ternyata ada gerakan-gerakan pembaharu (perusak) agama yang malah membolehkan bahkan mempropagandakan konsep pemicu kebinasaan ini.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An Nisaa`: 23)

Dimasukkannya incest (baik karena sedarah maupun sepersusuan) dalam masalah pernikahan sesungguhnya sangat logis. Sebab, Al-Qur’an hanya mengenal pernikahan sebagai satu-satunya jalan menuju kehalalan hubungan seks. Siapa yang boleh dinikahi maka sah saja berhubungan seks. Sebaliknya siapa yang haram dinikahi maka dia tidak boleh diajak berhubungan seks, apapun alasannya! Berdasarkan logika ini maka hubungan seks sedarah atau sepersusuan baik karena zina maupun perkosaan adalah hal yang keharamannya berlapis-lapis. Incest dengan cara zina (suka sama suka) menabrak dua garis keharaman sekaligus yakni haram menikah dan haram berhubungan seks di luar nikah. Lebih dari zina, incest dengan perkosaan menabrak satu lagi garis keharaman yakni merampas kehormatan perempuan secara paksa.

Secara eksplisit Al-Qur’an memang tidak menjelaskan mengapa menikahi mahram diharamkan. Ini cara yang biasa ditempuh Al-Qur’an ketika mengharamkan sesuatu yang madharatnya mudah diketahui atau dirasakan akal sehat. Berbeda dengan keharaman khamr dan riba, misalnya, Al-Qur’an menempuh beberapa fase dan memberikan penjelasan untuk meyakinkan alasan pengharaman karena hal itu banyak dipraktekkan orang dan dirasakan ada unsur manfaatnya meski tidak sebesar madharatnya. Meskipun setelah Al-Qur’an sudah sempurna turun, khamr dan riba pun juga sempurna keharamannya, tidak lagi bertahap.

Keharaman incest (baik sedarah maupun sepersusuan) tampaknya dipandang sebagai hal yang mudah diterima akal sehat. Jadi kenapa dibuat repot?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ قَالَحَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِأَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لِأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلَا أَخْبَرْتِنِي فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ

….dari ‘Uqbah ibn Harits bahwa dia menikahi anak perempuan Ihab ibn ‘Azis. Maka datang kepadanya seorang perempuan maka (dia) berkata, “Sesungguhnya saya telah menyusui ‘Uqbah dan (perempuan) yang dia nikahi.” Maka berkata kepadanya ‘Uqbah, “Aku tidak tahu kalau engkau telah menyusuiku dan engkau tidak pula memberitahuku.” Maka (‘Uqbah) berkendara menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, maka dia bertanya kepada beliau. Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana (lagi) padahal sudah dikatakan (bahwa kalian adalah bersaudara susuan)?” Maka ‘Uqbah menceraikannya (istri) dan menikahi istri (perempuan) selainnya. (HR Bukhari)

Begitulah, berdasar keterangan yang berupa pengakuan dari seorang ibu (susuan) maka pernikahan yang telah terjadi itu pun mesti dibatalkan (cerai) karena ke-mahram-an pada keduanya.

Dari kisah itu kita bisa tahu betapa dahulu mereka amat menjaga pengetahuan tentang siapa saja yang bersaudara susuan. Jadi meskipun menyusukan anak kepada orang lain adalah kebiasaan orang Arab kala itu, namun pengetahuan tentang hubungan mahram ini tetap terjaga. Sehingga ketika didapati seseorang melanggar batasan ini, ada orang yang segera memberitahukannya. Boleh jadi perempuan itu telah lalai karena tidak memberitahukan persaudaraan antara ‘Uqbah dan istrinya, namun kita bisa juga memaham bahwa dengan cara beginilah Allah hendak memberitahukan kepada kita betapa pentingnya bagi kita mengetahui hubungan kemahraman atas dasar susuan. Allah berikan shock therapi kepada kita agar tak lupa dengan kejadian ini.

Begitulah Islam. Selain perkara ibadah khas yang telah diatur sedemikian rupa, ternyata dalam hubungan antar manusia pun Islam mengatur sedemikian detailnya. Banyak hikmah dari pengaturan ini, yang salah satunya kelak terungkap lewat peran ilmu pengetahuan yang meneliti dampak buruk perkawinan sedarah atau saudara dekat yang dalam syara’ disebut sebagai mahram (orang yang haram dinikahi). Awas bukan muhrim lho. Kalau muhrim itu orang yang sedang ihrom di Baitullah.

Hasil Perkawinan Sedarah / INCEST dalam Ilmu Biologi

Pengertian Incest

Incest Ialah kontak seksual yang dilarang oleh karena hubungan keluarga. Kontak seksual tersebut dapat terjadi antara ayah dan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-laki, antara saudara laki-laki dan perempuan,  sepupu tertentu, dan banyak lagi yang dilarang secara agama maupun kultur. Misalnya sesama sepupu dimana ayah keduanya adalah kakak beradik, pada sebagian kultur hal ini tidak bermasalah, tapi pada kultur lain hal ini dilarang. Namun, bila hal ini tetap terjadi maka telah terjadi incest.

Dalam perkawinan incest dilarang baik dalam agama, kultur atau Ilmu bIologi. Nah disini penulis hanya membahas perkawinan incest dalam kaca mata biologi.

Dalam ilmu genetik, pernikahan dengan sesama kerabat keluarga (sampai sejauh sepupu II – great grandparents yang sama) disebut dengan consanguineous marriage. Secara umum consanguineous marriage diterjemahkan sebagai perkawinan sedarah.

Misalnya penyakit thalasimia

Kakek dan Nenek

Kakek menderita thalasimea dan nenek normal homozigot

XtYt  >< XTXT

Maka menghasikan keturunan

2(XTXt) = perempuan 50% normal Carier

2(XTYt) = laki-laki 50% normal karier

Saya ansumsikan memiliki 4 anak, 2 laki dan 2 perempua.

Maka akan menghasilkan keturunan 100% sehat semua, tetapi bersifat karier.

Andai kan  saja perempuan tersebut kawin dengan saudara kandungnya apa yang terjadi kita lihat dibawah ini

XTYt  >< XTXt

Maka keturunannya adalah

XXT  = 25 % Perempuan Normal Normal

XTXt  =  25 % Perempuan Normal carier

XTY=  25 % Laki-laki Normal carier

XtYt  =  25 % Laki-laki kena penyakit thalasimia
Keterangan :
TT= Normal ( 100% normal)
Tt = carier (normal tetapi pembawa sifat penyakittapi tidak tampak)
tt  = Penderita

Bagaimana dengan perkawinan tadi denagn sepupu, kemungkinan besar kena penyakit thalasimia pada cucunya.

Jadi Gimana cara menghilangkannya, ya pernikahan dengan selain penderita thalasimia / yang kena karier thalsimia.

Thalasimia intu penyakit Apa?

Thalasemia adalah kelainan darah karena hemoglobin darah mudah sekali pecah. Penyakit ini merupakan genetik yang diturunkan jika kedua orangtuanya adalah pembawa sifat (carrier). Akibat kelainan darah ini membuat anak terlihat pucat dan harus mendapatkan transfusi darah secara teratur agar hemoglobinnya tetap normal.
Apa saja penyakit yang disebabkan oleh penyakit keturunan

banyak sekali antara lain:

1.    Buta Warna

2.    Hemofilia

3.    Thalasimia

4.    Alergi

5.    Albino

6.    Asma

7.    Diabetes Malitus

8.  Keguguran

9.  Idiot dll.

Hanya itu saja penjelasan dari saya, semoga bermanfaat

Sekali lagi, bagaimana dengan non muslim? Apakah mereka juga mesti terkena dampak aturan Allah ini, sedangkan aturan mahram hanya ada dalam Islam?

Terserah manusia ini akan menganut agama atau kepercayaan apa pun, namun ketentuan Allah pasti akan terjadi. Bagi non muslim, selain mereka sudah meninggalkan aturan Islam (dan itu menyebabkan amalan mereka sia-sia), maka jika ada yang melakukan pernikahan yang haram ini, bertambah lagilah pelanggaran yang dilakukan dan efek buruk perkawinan yang ditinjau dari segi kesehatan pun akan terjadi. Mungkin berupa gangguan fisik atau pun jiwa.

Wallahu a’lam.

—————–

Marriage Incest (incest Nor Sepersusuan) Prohibited In Islam

By Rito Kurniawan

None of the things that are forbidden in the Qur’an does not contain madharat (danger). Even if certain terms of the benefits to be found, nonetheless madharat more dominating. Even if it does not directly impinge madharat individual, it can happen to a family, or society at large. It also happens in the case of inbreeding, incest ah alone. That there is the discovery in some societies practiced incest to keep the breeds excellence (the lineage) and there’s no negative consequences, it does not mean that the logic of incest to be legitimate. But again, there is not anything that is not forbidden by Islam hazards. So that may be dlohir incest (either because incest and sepersusuan) for a pure guard is no danger, but it can be psychologically and morally dangerous.

Especially when faced with religion. All religions without command considers the practice of incest as something illegal. Similarly, the collective moral sense – both set up by religious or formed by akalbudi – reject this practice as a form of channeling human sexual instinct. Although arguments and approaches vary, incest discussion from the perspective of religion always leads to the same conclusion: Ra Get Quality!!!

Do not know if there was a reformer movements (destroyer) instead of religion to propagate the concept allows even trigger this destruction.

حرمت عليكم أمهاتكم وبناتكم وأخواتكم وعماتكم وخالاتكم وبنات الأخ وبنات الأخت وأمهاتكم اللاتي أرضعنكم وأخواتكم من الرضاعة وأمهات نسائكم وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف إن الله كان غفورا رحيما

Forbidden unto you (married) mother-mother; children were female; brothers were women, which your fathers brothers women, mother brothers were women; daughters of thy brethren the men; children the daughters of thy brethren that women, mothers who are breastfeeding mother you; sepersusuan sisters; mothers wives (in-law); children are in pemeliharaanmu wife of the wife that you have little control, but if you’re not interfering with your wife it (and have you divorce), it is not sinful to marry you; (and forbidden) wives of your real son (in-law) and accumulate (in marriage) two women were sisters, but that has happened in the past; Allah Forgiving, Most Merciful. (Surat an-Nisa ‘: 23)

The inclusion of incest (both because of incest or sepersusuan) in marriage is indeed very logical problems. Therefore, the Quran only recognizes marriage as the only way to halal sex. Who can then legally be married to have sex. Instead who is forbidden to marry then he should not be invited to have sex, for whatever reason! Based on this logic then sepersusuan incest or adultery or rape either because the keharamannya is layered. Incest by zina (consensual) crashed into two lines at a time that is haram haram haram to marry and have sex outside of marriage. More than adultery, incest rape prohibition hit one more line that is depriving the honor of women by force.

The Qur’an explicitly does not explain why marry a mahram is forbidden. This is the usual way taken the Qur’an as easy madharatnya forbid something known or perceived common sense. Unlike khamr and usury prohibition, for example, the Qur’an through several phases and provide an explanation to convince the reasons prohibition because it is widely practiced and felt there was an element the benefits though not as big as madharatnya. Although after the Qur’an was perfect down, khamr and usury was also perfect keharamannya, no longer gradual.

Prohibition of incest (both blood and sepersusuan) seems to be regarded as being readily accepted sense. So why be bothered?

حدثنا محمد بن مقاتل أبو الحسن قال أخبرنا عبد الله قال أخبرنا عمر بن سعيد بن أبي حسين قال حدثني عبد الله بن أبي مليكة عن عقبة بن الحارث أنه تزوج ابنة لأبي إهاب بن عزيز فأتته امرأة فقالت إني قد أرضعت عقبة والتي تزوج فقال لها عقبة ما أعلم أنك أرضعتني ولا أخبرتني فركب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة فسأله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف وقد قيل ففارقها عقبة ونكحت زوجا غيره

…. From ‘Uqbah ibn Harith that he marry the daughter of Ihab ibn’ Azis. Then a woman came to him then (he) said, “Verily I have been breastfeeding ‘Uqbah and (female) whom he married.” Then said to him’ Uqbah, “I do not know if you have menyusuiku and you did not tell me.” Then ( ‘Uqbah) drive to the Prophet sallallaahu’ alaihi wa sallam in Medina, so he asked him. So said the Prophet sallallaahu ‘alaihi wa sallam, “How (again) after they were saying (that you are brothers feedings)?” Then’ Uqbah divorced her (the wife) and married wife (woman) in others. (Bukhari)

Thus, based on the information in the form of recognition of a mother (suckling) the marriage must have taken place that was canceled (divorce) because of the mahram’s on both.

From the story we can know how their very first maintain the knowledge of who suckler brothers. So even though nursed the child to others is a habit of the Arabs at the time, but knowledge about the mahram relationship is maintained. So when someone is found violating these restrictions, there are people who immediately told him. Perhaps she was negligent for not telling brotherhood between ‘Uqbah and his wife, but we can also memaham that the way this is how God wants to tell us how important it is for us to know the relationship on the basis of suckler kemahraman. God gave us the shock therapy so as not to forget the incident.

That Islam. In addition to the typical case of worship that have been arranged in such a way, it turns out the human relations Islam was set up in such details. Much wisdom of this arrangement, one of whom later revealed by examining the role of science adverse inbreeding or close relatives are in Personality ‘called a mahram (people are forbidden to marry). Beware not muhrim know. If it’s people who are mahram ihrom in the House.

The results of inbreeding / incest in Biological Sciences

Definition of Incest

He is the incestuous sexual contact is prohibited because of family ties. Sexual contact can occur between father and daughter, mother and son, between brother and women, some cousins, and many more are prohibited by religion and culture. For example, where the father of two fellow cousins ​​are brothers, in some cultures it is not problematic, but in other cultures it is forbidden. However, if this is still the case then there has been incest.

In the incestuous marriages are prohibited in the religion, culture or biology. Well here the author discusses only the incestuous marriage of biology glasses.

In genetic science, marriage with other relatives (as far as second cousins ​​- the same great grandparents) called consanguineous marriage. Generally translated as consanguineous marriage inbreeding.

For example, disease thalasimia

Grandpa and Grandma

Grandfather and grandmother suffered thalasimea normal homozygous

XtYt> <XTXT

Then generate offspring

2 (XTXt) = 50% of normal women Carier

2 (XTYt) = 50% male normal career

I ansumsikan have 4 children, 2 boys and 2 The women.

It will produce offspring 100% healthy all, but it is a career.

If the first woman to marry siblings what happens we will see below

XTYt> <XTXt

Then the offspring is

XXT = 25% Female Normal Normal

XTXt = 25% Female Normal carrier

XTYt = 25% Male Normal carrier

XtYt = 25% Male thalasimia illness
Description:
TT = Normal (100% of normal)
Tt = carrier (carrier of penyakittapi normal but not shown)
tt = Patients

How denagn cousin marriage was most likely the grandson thalasimia illness.

So How how to eliminate it, yes marriage with non-sufferers thalasimia / a taxable thalsimia career.

INTU Thalasimia What disease?

Thalassemia is a blood disorder due to hemoglobin blood easily broken. The disease is genetically inherited if both parents are carriers of trait (carrier). As a result of a blood disorder this makes children look pale and should get regular blood transfusions in order to remain normal hemoglobin.
What are the diseases caused by hereditary diseases

aplenty among others:

1. Color-blind

2. Hemophilia

3. Thalasimia

4. Allergy

5. Albino

6. Asthma

7. Diabetes Malitus

8. Miscarriage

9. Idiot etc..

That’s all the explanation from me, may be useful

Again, what about the non-Muslims? Are they affected by the rule must also be God’s, whereas there is only a mahram rule in Islam?

It is up to these people will adhere to any religion or belief, but the Divine will happen. For non-Muslims, in addition they have left the Islamic rule (and it’s cause their deeds vain), so if anyone did this illicit marriage, increased lagilah abuses and ill effects of marriage in terms of health is going to happen. It may be physical or mental disorders.

Allaah knows best.

Wallahu a’lam.

About these ads

Tentang ritokurniawan

Sebuah doktrin sejati bagi semua Mujahidin Indonesia yang mencintai negara ini, lebih dari apapun di dunia ini. "Disini kami di lahirkan dan disini kami menumpahkan darah, meregang nyawa berbelitan merah putih di jasad kami. Jiwa raga kami demi kemanusiaan." Hak cipta tulisan ini adalah milik Allah SWT semata. Karena Ilmu adalah amanat Allah yg harus disampaikan kepada Ummah. Saya hanya menyampaikan apa yang kami miliki. Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. " ibarat tasbih & benang pengikatnya" terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya" Silahkan Copy Paste Sendiri Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Ku, Ilmu Pengetahuan, Kesehatan, Renungan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Alasan Kenapa Perkawinan Incest (Sedarah Maupun Sepersusuan) Dilarang Dalam Islam

  1. Ping-balik: Perempuan Yang Haram Dinikahi Dalam Agama Islam | ritokurniawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s