Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : Zamzam water even tastes like Chevas Regal Beverage “air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal “


Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal

Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.

Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai “dedengkot” Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.

Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak–perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.

Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.

Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an.

Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.

Pergi Haji

Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.

Lirih, saya memohon. “Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah.” Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, “Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!” Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.
———-

Willibrordus Rendra Surendra Broto (WS Rendra): Zamzam water even tastes like Chevas Regal Beverage

Although he was a Muslim, but I still like to drink liquor. Offhand I would say that there is no problem with it. Back then, I always say, if I read Bismillahirrahmanirrahim, then the liquor into the water.

I really have chosen the path of my life as an artist. Since young, I have been crisscrossing the world of theater. In fact, later known-Sava as “dedengkot” Theatre Workshop while still living in Yogyakarta. Theatre Workshop Through this I have gained everything: popularity, his wife, and also the material. It is not even half-hearted, in poverty as an artist at that time, I can bring a princess palace Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, who later became my second wife.

But rather, through marriage with the daughter of this palace, I finally express myself as a Muslim. Previously I was Catholic. Although in the long span of time, after gaining 4 children – my marriage foundered. However, my belief as a Muslim to stay awake.

In fact, after the marriage with third wife, Ken Zuraida, I’m more diligent in worship and draw closer to Allah SWT. And it’s not a coincidence, if I then joined together and Iwan Setiawan Djodi Falls in the group and Kantata Takwa Swami.

For me, poetry is not just an artist’s expression of feelings. But more than that, my poetry is an attitude of resistance to every form of tyranny and injustice. And that is a manifestation of enjoining evil as God has always commanded in the Qur’an.

As a poet, I tried to be consistent with my attitude. For the saga, a poet by nature into the mirror and the conscience of humanity. The poet is not a book that can be burned or banned, nor be destroyed leburkan fortress. He is the conscience that can not be generalized to the ground. They can indeed be defeated, but can not be generalized to the ground.

Go to Hajj

When the pilgrimage, whatever I feel like a gulp of liquor brands Chevas Regal. Drink here, drink there, it’s like liquor. In fact, it feels like Zamzam water was Chevas Regal, until I burp like a man who finished drinking.

Softly, I beg. “Oh, my God, I was already begging for mercy. Man, mercy, mercy, O God.” I really felt scared, discouraged, embarrassed, and angry, so I wanted to shout, “What the hell? What do you mean? Do not embarrass me, please!” I just feel the water again on a flight from Jeddah to Amsterdam. Alhamdulillah! I am truly grateful. After this, I will not drink liquor anymore.

 

Tentang ritokurniawan

Sebuah doktrin sejati bagi semua Mujahidin Indonesia yang mencintai negara ini, lebih dari apapun di dunia ini. "Disini kami di lahirkan dan disini kami menumpahkan darah, meregang nyawa berbelitan merah putih di jasad kami. Jiwa raga kami demi kemanusiaan." Hak cipta tulisan ini adalah milik Allah SWT semata. Karena Ilmu adalah amanat Allah yg harus disampaikan kepada Ummah. Saya hanya menyampaikan apa yang kami miliki. Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. " ibarat tasbih & benang pengikatnya" terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya" Silahkan Copy Paste Sendiri Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Pos ini dipublikasikan di Catatan Ku, Mengapa Aku Pilih Islam Sebagai Agamaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s