Markus Horizon, The Small Frequent Muallaf Since the Mosque


Markus Horison, Sang Muallaf Sejak Kecil Sering ke Mesjid

Kisah Muallaf
Bagi penggemar sepak bola dalam negeri, nama Markus Horison pastilah sudah tidak asing lagi. Sejak dipercaya menjadi penjaga gawang Tim Merah Putih pada babak penyisihan grup Piala Asia 2007 lalu, menggantikan Jendri Pitoy, nama Markus mulai banyak dikenal di jagad sepak bola Indonesia. Meskipun waktu itu Indonesia kalah 1-0 dari Korea Selatan, dan tersingkir dari gelaran kompetisi, tapi justru sejak itu, Markus kerap dipercaya berada di bawah mistar gawang Tim Nasional Indonesia.
Markus kecil lahir di Pangkalan Brandan, Medan, 14 Maret 1981. Hobinya bermain bola membawa ia bercita-cita untuk menjadi penjaga gawang Tim Nasional Merah Putih ketika ia menjalani karir profesionalnya suatu hari nanti. Perawakannyanya yang memang lebih tinggi dari rekan-rekan sebayanya, membuat anak bungsu dari empat bersaudara ini kerap dipercaya menjadi penjaga gawang setiap kali ia bermain bola dengan kawan-kawannya.
Menekuni hobinya bermain bola dimulai saat Markus berusia 13 tahun dengan masuk ke sekolah sepak bola, Brandan Putra. Tahun 2000, Markus yang juga memiliki hobi berenang ini memulai karir profesionalnya sebagai seorang pemain bola pada Divisi II PSKB Binjai. Setahun kemudian, karirnya merambat naik dengan mulai bermain bersama klub yang berada di Divisi I, Persiraja Banda Aceh. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2003, Markus bergabung dengan klub asal tanah kelahirannya, PSMS Medan.
Bersama klub yang dijuluki ‘Ayam Kinantan’ ini, Markus sempat berpeluang menjadi kampiun pada Liga Indonesia 2007-2008, sebelum akhirnya dikalahkan oleh klub satu pulaunya, Sriwijaya FC. Seiring dengan permasalahan internal yang terjadi dalam tubuh PSMS Medan, menjelang masa dimulainya Liga Super Indonesia 2008-2009, Markus bersama dengan rekan-rekannya di PSMS seperti Mahyadi Panggabean, memutuskan untuk hijrah ke kesebelasan Persik Kediri.
Waktu ternyata mempertemukan kembali Markus dengan klub lama yang sempat lama dibelanya, PSMS Medan. Terjadinya krisis dalam tubuh Persik Kediri pada pertengahan musim Liga Super, membawa Markus kembali menjadi penjaga gawang PSMS selama putaran kedua kompetisi tertinggi sepak bola di Indonesia. Tidak seperti kepindahannya yang disertai oleh beberapa rekan-rekannya, kepulangan Markus ke PSMS kali ini hanya seorang diri.
Sejak menekuni kariernya sebagai pesepakbola profesional, sejumlah prestasi telah ditorehkannya, baik untuk level klub maupun pribadi. Bersama klubnya kala itu, PSMS Medan, Markus menjuarai turnamen ‘Piala Emas Bang Yos’ selama tiga tahun berturut-turut (2004, 2005, 2006). Bahkan pada akhir turnamen pada 2006, Markus memperoleh gelar sebagai ‘Pemain Terbaik’.
Mendapat Hidayah
Dibesarkan di keluarga yang semua anggotanya beragama Kristen, Markus yang merupakan anak dari pasangan Julius Ririhina, dan Yenny Rosmawati, banyak memperoleh gambaran mengenai agama Islam dari keluarga pihak ibu. ”Ibu saya awalnya Islam. Sejak menikah dengan ayah, Ibu berganti kepercayaan mengikuti kepercayaan ayah,” tutur pemilik nama lengkap Markus Horison Ririhina ini.
Menurut Markus, kedekatan, dan keakraban yang ia miliki dengan kerabat dari pihak ibu, membuat Markus sejak kecil sudah tidak asing lagi dengan hal-hal yang berbau Islam, seperti shalat, puasa, dan mengaji. ”Sejak duduk di sekolah dasar, saya sering menghabiskan liburan sekolah dengan berkunjung ke rumah saudara dari pihak ibu yang tinggal di Aceh. Dari situ, saya sering ikut mereka ke masjid. Tidak benar-benar masuk sih, tapi yah saya banyak memperoleh gambaran tentang Islam, dan shalat dari situ,” cerita ‘Penjaga Gawang Terbaik’ versi gelaran Liga Indonesia musim 2007-2008 yang lalu ini.
Pada tahun 2004, ketika ia berusia 25 tahun, Markus mendapatkan hidayah dari Allah SWT, dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. ”Saya memutuskan untuk masuk Islam, tanpa ada paksaan dari siapapun. Jadi, ini benar-benar keinginan saya sendiri,” tuturnya. Semenjak menjadi muallaf, Markus memiliki nama lain yang lebih bernafaskan Islam, yaitu Muhammad Haris. Namun, ia lebih sering menggunakan nama aslinya, karena memang ia telah lebih dulu dikenal dengan nama Markus Horison.
Keputusan Markus untuk menjadi muallaf bukannya tanpa rintangan. Di masa-masa awal perjalanannya memeluk Islam, ayah beserta ketiga kakaknya menentang keputusan tersebut. ”Awalnya tentu mereka semua merasa keberatan. Hal tersebut wajar, dan saya sangat bisa mengerti. Tapi, pada akhirnya mereka menyadari bahwa saya sudah cukup dewasa dan bisa menentukkan jalan hidup yang saya rasa terbaik untuk saya sendiri,” ujar Markus yang setia dengan model rambut bergaya plontos ini.
Sebagai satu-satunya muslim di keluarga, membuat Markus terbiasa beribadah sendirian. Di kala bulan Ramadhan tiba, Markus biasa sahur, berbuka, menjalankan tarawih, dan merayakan lebaran Idul Fitri dan Idul Adha sendirian. ”Awalnya memang berat, tapi hal tersebut harus saya jalani,” kata Markus. Meskipun begitu, atlet yang ikut memperkuat tim Sumatera Utara pada pagelaran PON XVI di Palembang pada 2004 lalu ini, mengaku tetap senang, dan bahagia menjalaninya.
Menurutnya, dalam menjalani agama yang ia anut sebelumnya, dengan yang ia anut kini, Markus tidak menemukan adanya sebuah perbedaan yang teramat besar. ”Buat saya sebenarnya semua agama tidak terlalu berbeda. Semuanya mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada Tuhan. Hal terpenting sebenarnya hanyalah bagaimana kita menjalankan kewajiban kita sebagai umat beragama,” lanjutnya.
Kebersamaan, dan dukungan sejak awal ia menjadi muallaf, justru diperoleh Markus dari rekan-rekannya di kesebelasan PSMS Medan yang kebanyakan beragama Islam. ”Saya sering shalat, belajar, dan bertanya hal-hal seputar Islam kepada mereka,” cerita Markus. Ramadhan pertama yang harus ia lalui pun bersamaan dengan kewajiban Markus menjalani latihan bersama dengan rekan-rekan satu klubnya. ”Haus bukan halangan, karena puasa itu kan kewajiban,” tegas Markus yang mengidolakan Rasullulah SAW ini.
Pengalamannya berpuasa pada Ramadhan pertamanya juga merupakan salah satu pengalaman paling berkesan yang ia rasakan semenjak menjadi muallaf. Pada tahun pertamanya berpuasa, ternyata ia mampu menjalankan ibadah puasa, tanpa ada bolong satu haripun.
”Rasanya saya tidak percaya bahwa saya bisa, karena pada hari-hari biasa saya term
asuk
orang yang paling tidak tahan lapar. Ternyata saya memang bisa, dan bahagianya saya ketika akhirnya berhasil mencapai Hari Kemenangan,” kenang Markus.
Kini, memasuki tahun keempatnya sebagai seorang muslim membuat Markus kian rajin mempelajari seluk beluk dunia Islam. Ia kerap membaca, dan mempelajari sendiri buku mengenai Islam yang ia beli untuk memperluas pengetahuan keislamannya. Buku-buku panduan shalat, dan berbagai buku bacaan doa pun sering ia beli untuk menyempurnakan ibadahnya. ”Saya biasanya membaca tulisan latinnya saja, karena memang bacaan arab saya masih kurang lancar,” akunya.
Sedikit-sedikit Markus pun belajar untuk menjalankan berbagai ibadah Sunnah seperti belajar berpuasa Senin-Kamis. Seperti juga kebanyakan umat muslim lainnya, memiliki harapan untuk dapat menginjakkan kaki di rumah Allah (menunaikan ibadah haji) hari nanti. ”Pastilah sebagai muslim saya ingin sekali bisa menjalankan ibadah umroh, ataupun haji. Selain itu, masih begitu banyak hal yang harus saya lakukan untuk menyempurnakan keislaman saya, seperti memperlancar belajar mengaji,” ujarnya.
———————
For football fans in the country, the name of Markus Horison certainly is not foreign. Since believed to be a Red and White Team goalie in the group stage of Asia Cup 2007, replacing Jendri Pitoy, Mark’s name widely known in the world of football Indonesia. Although at that time Indonesia lost 1-0 to South Korea, and eliminated from the competition mat, but it since then, Mark is often believed to be under the crossbar of the Indonesian National Team.
Mark was born in the small base Brandan, Medan, March 14, 1981. His hobby is playing the ball to bring it aspires to be the keeper of the National Team Red and White when he underwent his professional career someday. Perawakannyanya which are higher than their peers, making the youngest of four children was often believed to be the keeper every time he plays football with his friends.
Pursue his hobby of playing football began when Mark was 13 years old to enter school football, Brandan Son. In 2000, Mark is also a hobby, this swim began his professional career as a football player in Division II PSKB Binjai. A year later, his career went up to start playing with clubs that are in Division I, Persiraja Banda Aceh. Two years later, in 2003, Mark joined the club from his native land, PSMS Medan.
The club is nicknamed ‘Chicken Kinantan’ this, Mark had a chance to be league champions in Indonesia 2007-2008, before being defeated by the club of his island, FC. Along with the internal problems that occur in the body PSMS Medan, before the commencement of Indonesia Super League 2008-2009, Mark along with his colleagues in the PSMS as Mahyadi Panggabean, decided to move to teams Persik Kediri.
Markus was time to bring back the old clubs that had long defended, PSMS Medan. Crisis in the mid-body Persik Kediri Super League season, bringing Mark back into PSMS keeper during the second round of the highest football competition in Indonesia. No such move is accompanied by some of his colleagues, Mark return to the PSMS this time just by myself.
Since pursue his career as a professional footballer, a number of achievements have been ditorehkannya, for both club and personal level. With his club at the time, PSMS Medan, Mark won the tournament ‘Bang Yos Gold Cup’ for three consecutive years (2004, 2005, 2006). Even at the end of the tournament in 2006, Mark earned the ‘Best Player’.
Get Hidayah
Raised in a family that all members are Christian, Mark, who is the son of Julius Ririhina, and Yenny Rosmawati, many get a picture of the religion of Islam from his maternal family. “My mother was the beginning of Islam. Since her marriage to the father, she changed the trust following the father’s trust, “said the owner’s full name is Markus Horison Ririhina.
According to Mark, closeness, and intimacy he had with relatives of the mother, making Mark since childhood have been familiar with things that smell of Islam, like prayer, fasting, and chanting. “Since sitting in elementary school, I often spent school holidays with a visit to the home of his maternal relatives who live in Aceh. From there, I often take them to the mosque. Not really into hell, but well get a picture of me a lot about Islam, and prayers from there, “the story of ‘Best Goalkeeper’ version of the Indonesia League title this past season of 2007-2008.
In 2004, when he was 25 years, Mark getting guidance from Allah SWT, and finally decided to embrace Islam. “I decided to convert, without any coercion from anyone. So, this is really my own desires, “he said. Since converted to Islam, Mark has a name that more breath of Islam, Muhammad Haris. However, he more often uses his real name, because he had first known as Markus Horison.
Mark’s decision to become a convert is not without obstacles. In the early days of his journey to Islam, the three brothers and their father against the decision. “At first, of course they all have objections. This is reasonable, and I can understand. But eventually they realized that I was old enough and can menentukkan way of life that I think best for my own, “said Markus faithful with this bald-style haircut.
As the only Muslim in the family, making Mark accustomed to worship alone. At the time Ramadan arrived, Mark used to dawn, breaking, running tarawih, and celebrating Eid Eid al-Fitr and Eid al-Adha alone. “At first it was hard, but it has to be my living,” says Mark. Even so, the athlete who was part of a team of North Sumatra on show PON XVI in Palembang in 2004, the claim to remain happy, and happy live.
According to him, the religion which he had previously embraced, with which he embraced now, Mark did not find the existence of a very big difference. “For me religion is not actually all that different. Everything teaches us to always remember God. The most important thing is really just how we do our duty as religious people, “he continued.
Togetherness, and support from the beginning he was a convert, it acquired Mark of his colleagues in teams PSMS Medan are mostly Muslim. “I often pray, learn, and ask about Islam matters to them,” Mark’s story. Ramadan he must first pass was the same with Markus obligation to undergo training with his club-mates. “Haus is not an obstacle, because it’s the obligation of fasting,” said Mark who idolized Rasullulah this SAW.
His first experience of fasting in Ramadan is also one of the most memorable experience he had felt since converted to Islam. In his first year of fasting, he was capable of running fast, without any holes a single day.
“I think I do not believe that I can, because in those days I used the term
asuk not stand people who are most hungry. It turned out that I could indeed, and I am happy when I finally made it to Victory Day, “recalls Mark.
Now, entering his fourth year as a Muslim to make Mark more diligently learn the ins and outs of the Islamic world. He often read, and study their own books on Islam that he bought to expand the knowledge of Islam. Prayer guide books, and various prayer books too often she bought to enhance worship. “I usually only read Latin, because I still do not read Arabic fluently,” he admits.
Mark was a little bit to learn to run a variety of worship such as learning the Sunnah to fast every Monday and Thursday. Like many other Muslims, have hope to be able to set foot in the house of God (pilgrimage) days later. “Certainly as a Muslim I would like to be able to practice Umrah, or pilgrimage. In addition, there are so many things I should do to improve my Islam, such as to facilitate learning the Koran, “he said.

Tentang ritokurniawan

Sebuah doktrin sejati bagi semua Mujahidin Indonesia yang mencintai negara ini, lebih dari apapun di dunia ini. "Disini kami di lahirkan dan disini kami menumpahkan darah, meregang nyawa berbelitan merah putih di jasad kami. Jiwa raga kami demi kemanusiaan." Hak cipta tulisan ini adalah milik Allah SWT semata. Karena Ilmu adalah amanat Allah yg harus disampaikan kepada Ummah. Saya hanya menyampaikan apa yang kami miliki. Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. " ibarat tasbih & benang pengikatnya" terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya" Silahkan Copy Paste Sendiri Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Pos ini dipublikasikan di Catatan Ku, Mengapa Aku Pilih Islam Sebagai Agamaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s