Islam Menghapus Agama-Agama Sebelumnya dan Penyempurna Bagi Seluruh Agama


Islam Menghapus Agama-Agama Sebelumnya dan Penyempurna Bagi Seluruh Agama

( Islamic Removing Religions Previous and enhancer for All Religions)

Oleh Rito Kurniawan

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku
salah satu dari umat ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam
keadaan tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi
penghuni neraka”.

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman (I/134). Juga Imam
Ahmad dalam Musnad (II/466) dan Ibnu Mandah dalam Kitab Tauhid (I/314) dan juga
dalam Kitabul Iman (II/192), Mustakhraj Abu Awanah (I/104) semuanya diriwayatkan
dari Abu Hurairah radliayallahu ‘anhu. Syaikh Al Albani menjelaskan dalam
kitabnya Silsilah Hadits Ash Shahihah hadits no.157, bahwa hadits ini shahih.
Sebagian jalannya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim dan sebagian sesuai
dengan syarat Muslim.

Syarah Hadits

Tatkala lahir seorang bayi dari seorang ibu tanpa adanya suami, dianggapnya hal
ini keluar dari kewajaran dan suatu keanehan. Kode etik yang ada di
tengah-tengah kehidupan, jika seorang wanita melahirkan bayi tanpa suami, maka
ia telah melakukan perbuatan zina dan ini merupakan aib yang besar di mata
manusia. Namun bagi seorang yang mempunyai fitrah salimah dan akal yang sehat,
kejadian bayi lahir tanpa bapak pun bisa saja terjadi jika hal ini memang
dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Bukan sebagaimana yang telah dilontarkan oleh
kaum Nashara, yang dikarenakan adanya bayi lahir tanpa bapak, tetapi dari tiupan
ruh Allah, maka anak yang dilahirkan ditetapkan sebagai anak-Nya (dengan asumsi
agar ia tidak dipanggil anak zina karena tidak mempunyai bapak).

Ini adalah kalimat yang kufur tatkala keluar dari mulut seorang makhluk pada
Penciptanya. Sungguh hanya bagi-Nya segala kekuasaan, kehendak dan penciptaan.
Tidakkah mereka tengok jauh-jauh ke belakang, di sana ada kejadian yang lebih
dahsyat dari semua itu. Yang menjadikan seorang lebih termangu, tak mampu
bergerak kecuali hanya duduk menopang dagu. Sadarlah dan ingatlah bahwa Allah
yang Maha Esa dan Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk- Nya dari seorang lelaki
tanpa isteri disisinya (yaitu diciptakannya Hawa). Bahkan lebih dari itu ia pun
mampu menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu (yaitu diciptakannya Adam)
sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya misal (pemciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan)
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:
(Jadilah [seorang manusia]), maka jadilah ia” (Ali Imran 59)

Allah Ta’ala memperbandingkan penciptaam Isa dengan Adam untuk membantah kaum
nashara karena mereka telah melontarkan suatu ucapan yang tidak benar dan tanpa
alasan, yaitu Isa ‘alaihis salam adalah Tuhan atau anak Tuhan. Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjelaskan bahwa kejadian Isa bukanlah suatu hal yang membingungkan,
bukan pula merupakan alasan yang kuat bagi mereka untuk mengatakan Isa itu Tuhan
atau anak Tuhan. Justru ini adalah tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah,
satu-satunya Dzat yang Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam, serta seluruh
kejadian yang ada di alam ini di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya.

Ayat di atas selain membantah mereka, juga menjelaskan bahwa tak ada satu pun
yang berhak untuk menandingi Allah dari segi manapun. Allah patahkan argumen
mereka dengan memberikan permisalan yang lebih dari apa yang mereka lihat, yaitu
adanya penciptaan Adam dari tanah. Maka seandainya yang mereka katakan itu betul
(bahwa Nabi yang lahir tanpa bapak berarti Allah sebagai bapaknya), tentunya
Adam ‘alaihis salam lebih berhak karena ia diciptakan tanpa ayah dan ibu.
Sedangkan Isa ‘alaihis sallam dilahirkan hanya tanpa bapak.

Wahai manusia yang berakal. Tak cukupkah bukti ini bagimu? Dengan pemikiran
seperti ini telah mereka sesatkan sekian juta umat dari fitrah mereka yang
selamat dan akal yang sehat. Dengan doktrin-doktrin yang mereka tanamkan ini,
manusia lari dari kebenaran yang hakiki, hanya mimpi-mimpi semu yang mereka
dapatkan.

Kebencian kaum Nashrani mencuat tatkala muncul sayyidul basyar (manusia yang
terbaik), habibullah (manusia kekasih Allah), Nabi yang menjadi rahmat seluruh
alam, pembawa cahaya yang menerangi jalan yang gelap menuju jalan yang terang,
penyempurna akhlak dan tauladan bagi pengikutnya. Mereka lampiaskan dengan
ungkapan sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah :

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku,
yaitu taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang
akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala Rasul itu
datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini
adalah sihir yang nyata” (Ash Shaf 6)

Mereka juga selalu mendengungkan propaganda “kami adalah anak-anak Allah dan
kekasih-Nya”. Padahal mereka manusia biasa yang tidak terlepas dari kesalahan
dan dosa, sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitab-Nya yang mulia:

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani mengatakan: kami adalah anak-anak Allah dan
kekasih-Nya. Katakanlah: Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu
bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-Nya). Tetapi kamu manusia biasa diantara
orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan hanyalah milik Allah kerajaan seluruh langit dan bumi serta apa yang ada
diantara keduanya. Dan kepada Allah lah kembali (segala sesuatu)” (Al Maidah 18)

Kaum Nashrani tidak henti-hentinya menampakkan dengan angan-angan yang selalu
mereka lontarkan: “Kamilah umat yang terbaik dan petunjuk itu ada pada kami.
Tidak ada satu pun yang dapat masuk ke dalam surga kecuali dari golongan kami
saja.”

Lihatlah ini dikisahkan dalam firman Allah:

“Dan mereka (Yahudi dan nashrani) berkata:”Sekali-kali tidak akan masuk surga
kecuali orang-orang yang (beragama) yahudi atau nashrani”. Demikian itu hanya
angan-angan mereka yang kosong berlaka. Katakanlah:”Tunjukkanlah bukti
kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (Al Baqarah 111)

“Dan mereka berkata:”Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi dan Nashrani,
niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak! Melainkan (kami mengiktui)
agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang
yang musyrik” (Al Baqarah 135)

Upaya untuk mempropagandakan agama mereka membuat mereka tidak ridha
selama-lamanya sebelum Rasulullah dan umatnya mengikuti agama mereka. Sebagaimna
yang telah Allah Ta’ala beritakan dalam kitab-Nya yang mulia:

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka” (Al Baqarah 120)

Pembaca yang dimuliakan Allah, sebagaimana kita ketahui, Allah Ta’ala dengan
keadilan, kebesaran dan kesempurnaan kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk-
Nya mengutus pada setiap umat seorang Nabi, yang Dia sertakan aturan-aturan yang
sesuai dengan kebutuhan situasi serta kondisi masing-masing, sebagaimana
firman-Nya:

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”
(Al Maidah 48)

Namun meskipun aturan-aturan itu beraneka ragam, tetap ada satu kesepakatan yang
Allah perintahkan kepada setiap Nabi yaitu supaya mengajak umatnya untuk
menyembah serta memberikan segala bentuk peribadahan hanya kepada-Nya saja.
Firman Allah Ta’ala :

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu” (An Nahl 36)

Dengan demikian seluruh nabi dan rasul pada hakekatnya mereka menyeru pada ke-
Esaan Allah. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyeru untuk menyembah kepada
selain-Nya, termasuk Nabi Isa ‘alaihis salam yang mereka katakan sebagai anak
Allah. Nabi Isa pun menyeru kepada kaumnya agar mereka menyembah Allah, Rabb
yang mengatur semua alam ini. Firman Allah:

“Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk
menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang
kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu
bertaqwallah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan
Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (Ali Imran 50-51)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan kerububiyahan-Nya (Pencipta, Pengatur
Seluruh Alam dan Pemberi Rezeki) yang tidak seorang pun mengingkarinya.
Sesungguhnya Dzat yang mempunyai sifat-sifat inilah yang layak untuk disembah,
bukan lainnya. Terdapat pula bantahan untuk orang-orang Nashrani yang mengatakan
“Isa itu Tuhan atau anak Tuhan”. Padahal Nabi Isa sendiri mengikrarkan dirinya
“bahwa aku ini adalah seorang hamba (makhluk). Jangan menyembah kepadaku, tetapi
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kamu sekalian”, sebagaimana yang Allah
firmankan dalam kitab-Nya :

“Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil)
dan Dia menjadikan aku seorang nabi” (Maryam 30)

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan
selain Allah? Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan
apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentu
Engkau telah mengetahuinya. Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka
kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) yaitu: “Sembahlah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu” (Al Maidah 116-117)

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa setiap yang tunduk dan patuh kepada Nabi-Nya,
dikatakan sebagai muslim di jamannya. Contohnya yahudi, mereka dinyatakan
sebagai muslimin di jalan Nabi Musa sebagaimana yang Allah firmankan:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kepada anak-anaknya,demikian pula Ya’qub.
(Ibrahim berkata): Wahai anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini
bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim” (Al
Baqarah 132)

Dan diperintahkan untuk beriman kepada apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi-Nabi
dan para Rasul sebelumnya. Firman Allah Ta’ala:

“Katakan (hai orang-orang mukmin): Kami beriman kepada Allah dengan apa yang
diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,
Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa
yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membedakan seorang pun
di antara mereka dan kami hanya tunduk (muslimin) patuh kepada-Nya” (Al Baqarah
136)

Meski demikian keadaannya, Allah Ta’ala telah menjadikan Rasul-Nya Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi Rasul terakhir yang membawa kitab yang
sempurna dan menghapus agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu tiap orang dari
umatnya yang hidup di jaman setelah diutusnya beliau baik dia yahudi, nashrani,
majusi dan yang tidak beragama sekali pun, yang mendengar ajaran Muhammad
shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sampai ajaran tersebut kepadanya, kemudian dia
tidak mengimaninya, maka tempat kembalinya adalah neraka. Sebagaimana sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku
salah satu dari umat ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam
keadaan tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi
penghuni neraka”.

Berkata Imam Nawawi: “Hadits ini mengandung perihal dihapusnya seluruh agama
dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat yang dimaksudkan
dalam hadits ini, mereka yang hidup di jamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan setelahnya sampai hari kiamat. Disebutkannya Yahudi dan Nashrani,
dikarenakan kedua golongan ini mempunyai kitab, maka bagi selain mereka yang
tidak mempunyai kitab tentunya lebih utama dalam mengimani Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata setelah memaparkan hadits ini: “Hadits ini
jelas sekali. Siapa pun yang mendengar dakwah beliau dan sampai kepadanya dengan
semestinya kemudian dia tidak beriman, maka tempat kembalinya adalah neraka.
Tidak ada bedanya apakah ia yahudi, nashrani, masjusi atau tanpa agama”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Islam yang ada sejak Nabi Adam
‘alaihis salam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi
dua bagian:

a. Islam secara umum, yaitu semua pengikut rasul dikatakan sebagai muslimin di
jamannya, seperti halnya yahudi pengikut Musa, mereka muslimin di jaman Musa
‘alaihis salam. Nashara juga dikatakan Muslimin di jamannya Isa ‘alaihis salam.

b. Islam secara khusus, yaitu Islam yang ada setelah diutusnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghapus agama-agama sebelumnya dan
penyempurna bagi seluruh agama. Barangsiapa yang hidup di jaman setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengingkari ajarannya, maka
tidaklah mereka dikatakan sebagai muslimin melainkan kafir.

Dari keterangan di atas, tidak diragukan lagi bahwasanya Allah Ta’ala tidak akan
menerima agama apa pun di muka bumi ini kecuali Islam dan Islam yang dimaksudkan
adalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
barangsiapa yang menolak maka ia telah mencari kesengsaraan dalam hidupnya baik
di dunia maupun di akhirat. Firman Allah Ta’ala:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi” (Ali Imran 85)

Adapun firman Allah yang tertera dalam surat Al Baqarah ayat 62 yaitu :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani, dan
orang-orang shabi’in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari tuhan
mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula merka bersedih
hati’ (Al Baqarah 62)

Ahli Tafsir menjelaskan, keimanan yahudi (mereka yang berpegang teguh kepada
Taurat dan ajaran Nabi Musa ‘alaihis sallam) diakui dan diterima sampai
diutusnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Adapun sesudah datangnya Nabi Isa ‘alaihis
sallam dan mereka itu tetap berpegang teguh kepada ajaran Musa, dan tidak
meninggalkannya, serta tidak beriman kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, maka
celakalah ia. Demikian pula keimanan Nashrani diakui sampai diutusnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu siapapun yang tetap berpegang
teguh kepada Injil dan ajaran Isa serta tidak mengikuti ajaran Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka celakalah ia.

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber: http://sunniy.wordpress.com (dengan sedikit perubahan dari artikel asli)

Tentang ritokurniawan

Sebuah doktrin sejati bagi semua Mujahidin Indonesia yang mencintai negara ini, lebih dari apapun di dunia ini. "Disini kami di lahirkan dan disini kami menumpahkan darah, meregang nyawa berbelitan merah putih di jasad kami. Jiwa raga kami demi kemanusiaan." Hak cipta tulisan ini adalah milik Allah SWT semata. Karena Ilmu adalah amanat Allah yg harus disampaikan kepada Ummah. Saya hanya menyampaikan apa yang kami miliki. Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. " ibarat tasbih & benang pengikatnya" terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya" Silahkan Copy Paste Sendiri Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Pos ini dipublikasikan di Catatan Ku, Mengapa Aku Pilih Islam Sebagai Agamaku, Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s