Ketika Cinta Ber-Tajwid


Ketika Cinta Ber-Tajwid

Quran Tajwid

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba – tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr

Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’.

Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. DIA atau aku?

Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat.

Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.

Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun
—————————————

When Love Ber-Tajweed

When you first met you, I met like saktah. can only hold your breath briefly stunned by.

I was in your eyes like a nun probably died between idgham billagunnah, visible but none are considered.

I express my feelings intents and purposes like Idzhar, clear and bright.

If the death meets ba meme called ikhfa syafawi, then when I met you, it’s called love.

For a moment our eyes met, and then arrived – arrived all was like Idgham mutamaatsilain, they fuse.

I love you like Mad Wajib Muttasil, the longest among others.

Once you receive later my love, my heart feels like Qalqalah Kubro, bouncing hard.

And finally after a long time we are together, we love like Iqlab, characterized by two hearts together.

Dear to you as mad thobi’i in the Quran. many true

Hopefully in our relationship like idgham bilagunnah, only two of them, lam and ro ‘.

Mu’annaqah waqaf like, you should just stop at one. Him or me?

Although attention did not look like alif lam syamsiah, alif lam love you like Qomariah, clearly legible.

You and I like Idghom Mutaqorribain, encounter the same 2 letters makhrajnya but qualitatively different.

I hope our love like a Waqaf Lazim, a perfect stop at the end of life.

Similarly, the Mad Aridh which each met lin breadfruit Aridh will stop, as that’s when my eyes saw.

Like the letters Tafkhim, your name in my mind was bold.

Laws such Imalah devoted to Ro ‘course, so do I which is only for you.

May I be the last for you like mad aridlisukun

Tentang ritokurniawan

Sebuah doktrin sejati bagi semua Mujahidin Indonesia yang mencintai negara ini, lebih dari apapun di dunia ini. "Disini kami di lahirkan dan disini kami menumpahkan darah, meregang nyawa berbelitan merah putih di jasad kami. Jiwa raga kami demi kemanusiaan." Hak cipta tulisan ini adalah milik Allah SWT semata. Karena Ilmu adalah amanat Allah yg harus disampaikan kepada Ummah. Saya hanya menyampaikan apa yang kami miliki. Sungguh bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. " ibarat tasbih & benang pengikatnya" terajut menjadi satu untaian yang selalu disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta kepada Rabb-Nya" Silahkan Copy Paste Sendiri Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Pos ini dipublikasikan di Catatan Ku, Pelajaran Agama Islam, Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s